selalu terkuak kenangan 'kita' bersama
turunnya hujan membasahi bumi ini. entah kebetulan atau memang sudah
ditakdirkan bahwa, dimana hujan turun maka kenangan itu akan kembali ternganga.
kenangan
dan rindu yang bercampur menjadi satu disela-sela guyuran hujan. aku dan
kamu, orang yang terlalu naif, sehingga selalu berandai-andai dapat menikmati
setiap hujan turun bersama-sama. nyatanya sekarang, aku menikmati hujan dengan
kesendirianku dan kamu menikmati hujan bersama wanita pilihanmu yang baru. oh
terlalu tololkah ak, selalu berharap bahwa kita akan kembali menikmati hujan
ini bersama-sama.
aku hanya bisa menatap nanar kaca jendela
yang memperlihatkan betapa indahnya ciptaanNya.
hujan selalu memiliki
karismanya tersendiri, gagah namun tetap lembut. keras namun tetap menyatu
dengan sekitar. aroma tanah yang basah karena hujan juga memiliki pesonanya
tersendiri, ditambah langit dan udara setelah hujan yang selalu menjadi
penyejuk. dulu, ketika hujan reda kita berdua akan keluar dan menikmati sensasi
yang diciptakan oleh hujan. tanah yang basah, pelangi yang pelan-pelan muncul
dengan indahnya, gemericik butir-butir sisa hujan yang jatuh dari genteng,
embun dikaca.
kau dulu selalu berkata bahwa aku adalah
wanita hujanmu, wanita yang terlalu mencintai hujan dan wanita yang begitu kau
cintai. ahh, sekarang keadaan tidak seperti itu lagi. keadaan berbalik,
kenyataan tersingkap bahwa kau telah bermain api tidak lagi menyukai hujan
seperti dulu ketika bersamaku. miris, sesak dan pasrah itulah yang sekarang aku
rasakan. apakah semudah itu kau melupakan semua yang telah kita lewati ? sudah
berapa puluh bahkan berapa ratus kali hujan
kita lewati bersama, tapi kau melupakan semuanya seolah-olah kebersamaan
kita dulu tidak ada artinya apa-apa lagi. apakah api lebih menghangatkanmu ?
itulah kenapa kau lebih memilih api daripada
setia bersama hujan ? entahlah!
with love,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar