Senin, 31 Agustus 2015

ini untukmu...

Udah lama jari ini gk menggoreskan sesuatu disini. Ada rasa rindu karena udah lama gk meluangkan waktu disini, tapi apa mau dikata kesibukan diluar menyita hampir seluruh waktu yang aku punya. Hari ini, hari ini baru bener-bener seharian dikamar, mendekam tanpa kegiatan apapun dan terbitlah tulisan ini.
Hari ini aku mau menceritakan seseorang yang sekitar 2tahun yang lalu gak pernah ada difikiranku untuk menceritakan khusus disatu cerita diblog pribadiku ini. Karena bagiku, siapa yang telah masuk didalam blog ini, maka orang atau sesuatu tersebut merupakan hal yang ‘paling’ untukku. Paling kubenci, paling kusayang, paling kurindu dan semua yang ‘paling’ untuk hidupku.

Laki-laki ini pertama kali aku kenal adalah ketika aku masih menjadi mahasiswi baru dikampusku. Aku dikenalkan oleh teman baruku kepada laki-laki ini karena kami disatu mata kuliah yang sama dan kami akan bekerja sebagai satu kelompok. Pertama kali berkenalan dan kerumahnya, tak pernah terlintas difikiranku bahwa nantinya laki-laki ini akan menjadi ‘rumah’ untukku.
Setelah perkenalan itu, aku menjadi tahu bahwa laki-laki ini adalah teman baik kekasihku pada waktu itu. Dari kerja kelompok pertama berlanjut kerja kelompok kedua,ketiga keempat dan hingga entah mulai kapan, aku dan laki-laki ini berada dilingkungan pertemanan yang sama. Kami berdua dan keempat orang lainnya menjadi sangat dekat, hangout, pergi kuliah, pulang kuliah, bolos kuliah, titip absen bahkan kami berenam menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Yah, aku dan laki-laki ini hanya sebatas teman baik, awalnya.

Awal 2012 aku dan kekasihku pada waktu itu akhirnya memilih untuk berjalan masing-masing. Laki-laki ini adalah laki-laki paling ‘normal’ diantar keempat teman laki-lakiku. Laki-laki ini menjadi tempat aku menumpahkan segala kegalauan yang aku alami pasca berpisah dengan kekasihku. Dari berteman, aku sudah mengetahui bahwa laki-laki ini sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan kekasihnya dari masa sekolah. Bagiku, hubungan mereka hubungan yang kuat karena bisa berjalan dengan keterbatasan waktu untuk bertemu.
Semenjak berpisah dengan kekasihku terdahulu, aku belum menjalin hubungan pacaran lagi dengan laki-laki lain. Hubungan yang kujalani dengan laki-laki silih berganti tanpa kejelasan status hingga aku disebut ‘mega friendzone’ oleh teman-temanku. Perjalanan mencari cinta sejati tak kunjung aku dapatkan dan laki-laki ini pun masih tetap dengan hubungan jarak jauh bersama kekasihnya.

Hingga agustus 2013 aku dikejutkan berita dari laki-laki ini kalau dia dan kekasihnya memutuskan untuk berpisah secara baik-baik karena entah apa alasannya aku juga tidak mengerti. Sebagai salah satu ‘fans’ dengan hubungan mereka, aku juga ikut merasakan kesedihan laki-laki ini. Bagaimana tidak, laki-laki yang biasanya menebar senyum ini menjadi selalu menampakkan muka keruhnya. Aku sebagai sahabatnya pun hanya bisa memberikan semangat kepadanya, karena memberikan saran rasanya tidak pantas aku memberikan kepada orang yang selama ini selalu memberikan aku nasihat-nasihat dalam percintaan.

September 2013 minggu pagi, aku mendapatkan whatsapp dari laki-laki ini yang berisi ‘ndah udah nonton malem minggu miko ?’ aku dan laki-laki ini memang penggemar malam minggu miko, karena itu setelah melihat pesan darinya aku tidak menaruh curiga apapun, karena aku pun sudah terbiasa berkomunikasi dengan keempat sahabat laki-laki ku. Tapi ternyata ini adalah awal proses dari semuanya. Pesan-pesan tidak penting yang selalu dia kirimkan kepadaku berujung ajakan traktir nonton bioskop berdua pun aku anggap sebagai pengisi hari dari laki-laki yang sedang  galau. Hari ke hari pesan singkatnya selalu menghiasi hari-hariku. Mulai muncul perasaan ‘aneh’ dari dalam hatiku, tapi aku tahu bahwa aku hanya pengisi waktu sepi laki-laki ini. Tidak pernah aku berharap lebih dari perhatian yang laki-laki ini curahkan padaku. Sampai pada suatu hari, laki-laki ini berkata bahwa bisakah kami menjalani kedekatan yang lebih dari sekedar sahabat tanpa merusak persahabatan kami. Awalnya aku ragu, pertama karena laki-laki ini bukanlah laki-laki yang aku tipekan sebagai kekasihku, kedua karena laki-laki ini baru bubaran bersama kekasihnya. Tapi laki-laki ini meyakinkan, bahwa tidak akan ada yang berubah dari kami, kami berdua hanya mencoba menyelami diri lebih dalam dan lebih dari sekedar sahabat.

Oktober 2013, kedekatan kami semakin intim dan kedekatan kami pun mulai menuai respon dari lingkungan sekitar kami. Sebagian besar ikut senang dengan kedekatan kami karena kata mereka dari awal kami memang sudah memiliki kecocokan. Tapi aku yakin, bahwa ada pihak-pihak yang tidak suka dengan keadaan ini.

November 2013, kedekatan yang kami jalani sudah tidak dapat ditutupi dan dibulan ini puka, kami merubah statu persahabatan kami menjadi tingkat yang lebih tinggi. Ya tepatnya 14 november 2013 aku dan laki-laki ini resmi menjadi sepasang kekasih. Semua teman-teman dekat kami mendukung, tapi aku juga tahu dengan status ini mungkin sebagian orang akan memandang aku sebagai pihak yang ‘merusak’ hubungan laki-laki ini dengan kekasih sebelumnya. Tapi laki-laki ini selalu meyakinkan aku bahwa aku tidak perlu merasa sedih dan tidak perlu ambil pusing dengan omongan miring disekitar.

Tak pernah terfikir hubungan bersama laki-laki ini akan sebegimi istimewanya. Bahkan diawal hubungan, aku memprediksi bahwa hubungan ini tak akan berjalan lama, paling hanya hitungan bulan. Tapi dari hari kehari, bulan ke bulan dan tanpa terasa hampir 2 tahun hubungan ini aku masih merasakan perasaan yang sama setiap melihatnya. Kuliah bersama, kursus bersama, mendapatkan pembimbing skripsi yang sama, bimbingan skripsi bersama, seminar proposal bareng, ujian komprehensif bersama, yudisium bersama, wisuda bareng, menjadi pengangguran bersama, mencari pekerjaan bersama bahkan tes kerja keluar kota bersama.

Laki-laki ini, laki-laki yang begitu care terhadap keluarganya dan keluargaku,
Laki-laki ini, laki-laki yang begitu mengutamakan aku bahkan diatas kepentingan dirinya,
Laki-laki ini, laki-laki yang begitu menyayangi aku bahkan melebihi dia menyayangi dirinya sendiri,
Laki-laki ini, laki-laki yang setiap aku melihatnya aku melihat bahwa dia begitu melindungi aku,
Laki-laki ini, laki-laki yang tiada hentinya mencurahkan waktunya untuk meladeni tingkah manja dan tingkah menyebalkannya aku,

Laki-laki ini, dialah laki-laki tempat aku menggantungkan masa depanku,
Laki-laki ini, dialah laki-laki yang membuat aku percaya bahwa didunia ini ada cinta sejati,
Laki-laki ini, adalah laki-laki yang membuat aku menangis, tertawa, sedih, tersenyum setiap hari dan setiap detiknya,

laki-laki ini, adalah laki-laki yang begitu aku cintai dan mencintaiku.
laki-laki ini, adalah teman hidup dan rumah bagiku.


Dan, laki-laki ini adalah Amri Budi Suskandi Asmara ….


Tidak ada komentar:

Posting Komentar